Minimalis

Pertama, milikilah hanya satu buah email. Kedua, pastikan itu Google Mail😀. Buatlah email sekunder hanya untuk hal-hal yang tidak penting (notifikasi Facebook, misalnya).
Setiap ada email masuk : baca lalu proses (balas segera, simpan / archive, beri label, tandai sebagai spam, atau langsung dihapus). Gunakan fasilitas filter+label untuk email tertentu seperti lowongan pekerjaan/project/gig, transaksi e-banking, dll. Usahakan untuk tidak lagi berlangganan newsletter yang tidak penting.
Clean Google Reader.
Kata ZenHabits, hidup ini seperti aliran sungai, dan informasi di dalamnya (blog, berita, forum, milis, ebook, etc) ibarat tetesan air yang membentuknya.

Life is a flowing river, and worrying about every drop is futile. The water you’re in now is the best.

Berhenti berpikir bahwa Anda harus subscribe ke banyak sekali blog, situs techno, news. Fokus pada hal lain yang lebih penting, dan jangan pedulikan sisanya.
Senin yang lalu saya beli Kompas edisi cetak. Harganya murah. Cuma Rp 2000. Hingga hari ini, saya belum habis membaca semuanya. Tidak sempat. Saya tidak bisa bayangkan ada orang yang berlangganan 3-4 koran nasional setiap hari.
No TV.
Saya sudah jarang nonton TV sejak SMA. Menurut saya, jika sebuah informasi itu benar-benar penting, entah bagaimana caranya, lambat laun pasti saya bakal tahu juga. Sejak kuliah, hingga saat ini, saya pun tidak pernah tertarik untuk beli TV. Buat apa? Demi iklan, acara sampah, berita yang tidak jelas, atau gosip? Terima kasih. Live sport pun bisa dilihat highlight-nya via YouTube.
Minimalist blog design.
Meniru style blog-blog minimalis, saya hapus berbagai macam hal yang tidak krusial di blog ini. Widget. Sidebar. Labels. Popular posts. Blogroll. Search box. Share buttons. Publication date. Counter. Ads (walau ada blog khusus tempat saya pasang adsense sambil mengharap recehan dari ongkang-ongkang kaki). Shoutbox. Calendar. Semuanya hilang. Bahkan di mnmlist.com, kita tidak bisa berikan komentar.
Having less.
Berapa banyak buku yang kita beli, tapi bahkan sampul plastiknya belum kita buka? Berapa banyak pakaian, yang hanya kita pakai beberapa kali? Kita dikadali oleh salesman, oleh nafsu, oleh gaya hidup konsumtif. Dan kita kalah. Ada banyak sekali barang yang sebenarnya kita nggak butuh-butuh amat, tapi akhirnya kita beli juga.
Coba hitung. Sepatu olahraga. Sepatu kondangan. Sepatu kerja. Sepatu ke mall. Motor buat sendiri. Motor buat anak pertama. Motor buat istri ke pasar. Mobil keluarga. Mobil keluarga satu lagi buat perjalanan yang agak jauh dan muat lebih banyak. Iphone. Blackberry. Android phone. Ponsel CDMA. Sampeian kena Compulsive Hoarding Disorder barangkali?
Saat ini saya sudah tidak punya buku cetak. Saya lebih senang baca gratis di perpustakaan, atau pinjam di tempat penyewaan. Sebagian besar pakaian sudah saya sedekahkan. Sebagian barang yang tidak terpakai saya jual. Saya tidak punya motor, dan lebih senang pakai angkutan umum. Laptop lama sudah saya berikan ke sepupu yang lebih membutuhkan.
Having less. Get more things done.
No goal. No task.
Waktu demikian berharga. Kita dituntut bekerja dengan target. Capaian. Deadline. Kadang kita lembur. Demi apa? Tujuan dunia kita terlalu banyak. Uang. DP rumah. Sixpack. Baca dua buku per bulan. Speak English fluently. Beberapa downline. Mahir gitar. Punya usaha sampingan. Modifikasi sepeda.
Dalam sehari, to-do-list kita penuh. Demi tujuan-tujuan yang nisbi, bahkan saat makan pun kita lupa bismillah. Mata kita tertuju pada gadget, sambil sesekali membalas e-mail. Kita terlalu sibuk mengejar ‘target’, sampai-sampai kita tidak tahu lagi caranya menikmati setiap kunyahan, setiap tetes air, yang masuk ke tubuh ini.
Kita tidak rela disalip perusahaan saingan, tidak rela lapak sebelah lebih ramai, tidak rela waktu terbuang percuma. Saat apa yang kita idam-idamkan tak tercapai, kita stress. Merasa sia-sia. Tertekan. Kerutan di wajah kita semakin kentara. Kita tak punya waktu merenung. Duduk diam. Tidak usah melakukan apa-apa. Benar-benar tidak melakukan apa-apa.
Sejak sebulan yang lalu, saya berhenti bekerja. Kegiatan sehari-hari cuma makan, tidur, nungguin adzan, sholat, belajar ngaji, angkat-angkat Kettler 6 kilo, selebihnya bengong. Pada awalnya, saya pun sibuk mencari task/project sana-sini. Takut tidak punya uang di bulan depannya, dan tidak bisa makan. Ketakutan ini sebetulnya terlalu berlebihan. Kata Suze Orman, saat orang bilang mereka tidak punya uang, sebenarnya mereka punya, hanya bentuknya ‘one or two dollars, here and there‘.
So, I stop worrying. Saya kumpulkan lagi recehan-recehan saya. Dengan berhemat, saving saya pun cukup untuk hidup setidaknya 1-2 bulan. Sisanya yang tidak bisa cair cepat, tetap saya simpan. Macam pensiunan saja. Njegleg betul nasibnya. Semula 8-9 jam sehari otak jadi panas karena terus-terusan mikir, tiba-tiba tiap hari jam 7-8 pagi berjemur sambil makan bubur ayam harga 3000 perak. Aih, indahnya hidup ini. Hehehehe.
Selama 4 hari pula, saya jadi musafir. Ke Jogja, Solo, Surabaya, Malang, ke Jogja lagi, terus balik ke Jakarta. Benar-benar menjauhkan diri dari kehidupan duniawi. Amboi. Nggak usah mikirin kena damprat mandor pabrik, nggak usah mikirin IHSG anjlok, nggak usah mikirin yang susah-susah. Jalani saja, mengalir, percaya takdir. Asoi..
Mungkin suatu saat Anda harus coba cara yang lebih kurang sama dengan saya?
Prabowo Murti Shining Ways. *karena Golden Ways terlalu mainstream*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s